Home

Sunday, May 29, 2011

Tiga -Part One-

Haha nie cerpen jelek banget ya? kutaroh blog aja deh
*****

“Awas Meli!” teriakku ketika melihat orang tuli aneh bermasker itu.
“Hah...hah...syukurlah dia tidak melihatku...hah...hah”
“Maaf ya Mel, ini semua gara-garaku!”
Ya, ini semua gara-gara aku.Kalau saja hari ini aku tidak menemukan peta itu. Kalau saja hari ini aku tidak pergi ke gudang itu. Kalau saja hari ini aku menuruti kata mama untuk membersihkan kamar, semua ini pasti tak akan terjadi. Gara-garaku juga Meli harus terluka, dan Elang hilang entah kemana. Ah, seandainya waktu bisa diputar.
“Cart! Sudah kubilang berapa kali sih? Bersihkan kamarmu!” teriak mama marah ketika melihat kamarku yang kayak kapal pecah plus tumpukan sampah, sedangkan aku asyik lagi main laptop.
“Ah, mama! Bentar lagi deh! Udah mau nglawan rajanya nie!” sergahku sambil tetap bermain
Tiba-tiba mamaku melihatku sambil tersenyum (yang membuat aku sedikit lega) lalu mematikannya, dan pergi keluar sambil berkata, “Kalau kamarmu hari ini tidak bersih, laptopmu tidak akan mama kembalikan dan kamu tidak dapat sangu 1 minggu!”
Tidak! Tak apalah, jika tidak mendapat sangu. Tapi jangan laptopku! Laptopku adalah segala – galanya bagiku!
“Mama! Kumohon kembalikan! Aku janji pasti kamarku bersih” kataku memelas
“Tidak, sebelum kamarmu bersih. Dan mama akan menyembunyikannya di tempat yang tidak akan terjangkau!” kata mama sambil pergi keluar kamarku
Argh! Sebal deh masa’ di hari Minggu yang cerah, dan burung burung sedang bebas aku harus membersihkan kamar sih? Enakan juga main laptop trus internetan trus download lagu trus...
Stop stop !Nanti aku nggak mbersihin kamar trus nggak bisa main laptop, internetan dan download lagu lagu favoritku. Baiklah hari ini kamarku harus bersih. Tapi... harus kumulai dari mana ya?
Ya ampun, aku baru sadar kalau kamarku bener bener kotor!  Apa boleh buat, demi laptop tercinta. Huft, kubersihkan dulu sampah sampah aja kali ya? Argh, banyak banget sih Si sampah-sampah nakal. Hah... kayaknya nggak bakal selesai hari ini deh. Apa aku cari laptopku aja ya? Tapi mama selalu menyembunyikannya di tempat yang aneh dan nggak pernah di satu tempat yang sama. Semua tempat pernah dipakai mama buat menyembunyikan laptopku. Eh, tunggu mama kan belum pernah menyembunyikannya di dalam gudang! Mungkin laptopku ada disana.
Lalu akupun berlari. Drap! Drap! Drap! Suara apa itu? Ah, bodohnya. Itu kan, suara kakiku yang lagi menuruni tangga.
Tada! Sampai juga deh. Tapi kata Nenek dulu, gudang ini kan tidak bisa dimasuki orang yang berhati busuk. Ah, masa bodoh dengan  takhayul lama! Masuk aja deh
“Uhuk ! Uhuk !” aku terbatuk batuk karena gudangnya bener-bener berdebu.
“Waduh ini gudang atau tempat pembuangan akhir ya?” tanyaku heran. Hei! Ini kan gudangku ! Tapi nggak mungkin deh penuh debu and banyak laba-labanya, udah gitu perasaan 1 tahun yang lalu gudang ini bersih, harum, berkilau. Eh, berkilau emang lantai?
Ngomong-ngomong aku mau ngapain ya ke gudang ini? Oh iya nyari laptopku! Laptop manis dimana kau?  Laptop, Laptop,,,,Laptop? Ah ini dia!
Uh, beratnya! Perasaan laptopku nggak seberat ini deh. Lho? Ini kan bukan laptopku. Ya udah aku buka aja
“Hei, ada kertasnya ku baca aja deh”
“Shiny!”
Uh, menggangu aja, ya udah aku kesana dulu
“Shiny! Shiny! Bangun!”kata Meli
“Di...dimana aku?”
“Kita di rumah hantu itu. Baguslah kau sudah sadar. Oh, tidak dia kembali! Diamlah Shiny!”
“Sia...”
“Ssst!”
Aduh, siapa ya?. Oh iya orang tuli aneh bermasker. Orang tuli aneh bermasker? Wuaa gawat! Ya Allah tolonglah hambamu yang lemah ini. Mama maafkan aku. Maafkan aku semuanya
“Hei! Kalian kenapa sie?” tanya seseorang yang suaranya sangat kukenal. Tapi nggak mungkin banget kalo itu adalah dia
“Elang...” tanyaku lemah ketika samar samar muka Elang menghilang dari pandanganku.
Ukh, dimana aku? Apa aku sudah mati? Lho ini labirin kaca! Yee! Dari dulu aku pengen ke sini !
“WUAA! Aku tembus pandang!” teriakku nyaring saat melihat cermin karena diriku terlihat samar samar dan tembus pandang tentunya. Eh, kan keren kalo aku bisa nembus kaca.
Waduh! Kok nggak bisa nembus tembok ya? Aku coba lagi deh! Yee bisa nembus! Eh,ini nggak ada kacanya! Bodohnya diriku. Wah aku udah di luar, apa aku coba masuk lewat kaca ya? Duk! Aw sakit! Lagi ah! Duk! Aw sakit! Lagi ah! Duk! Aw sakit! Lagi ah! Duk! Aw sakit! Lagi ah! Duk! Aw sakit!......
“Shiny... shiny...aduh kamu itu kenapa sie? Kok pingsan malah jalan-jalan.” Kata Melida binggung tapi ada nada riang di suaranya
“Meli... apa yang terjadi?”
“Gimana sie? Kamu nemuin peta aneh di gudangmu trus kamu tunjukin kami trus kamu ngajak kami ke gua ini trus ada orang tuli aneh bermasker trus Elang hilang trus....”
“Bla bla bla... and kamu pingsan. Eh, tiba-tiba ngomong sendiri nggak jelas and kamu jalan keluar, tentu saja kami takut jadi ngikutin kamu. Eh, ternyata kamu menuju jalan keluar.” Kata Elang memotong pembicaraan Melida
Thanks Elang. Itu kata yang ingin kuucapkan karena dia telah memotong omongannya Melida yang penuh kata ‘trus’. Ngomong-ngomong
“Hei! Keberuntunganku hebat ya!”
“Huh! Iya deh!” kata Melida dengan bersungut-sungut
Cprak!
Eh, suara apaan tuh? Wuaa sandalku kena kotoran sapi!
“Kayaknya tadi cuma kebetulan deh. Hahaha!”
“Hahahahahaha”
Yah, mau tak mau aku ikut tertawa juga

Selesai!

No comments: